Jumat, 10 Januari 2014

Puisi di novel BERAJA

          Novel ini aku temukan di perpustakaan sekolah ketika aku kelas 2 SMA 
novel pertama yang pernah kubaca dengan serius (biasanya hanya sekilas :D ) karena aku sangat menyukai puisi dan di dalam novel ini aku lihat ada puisi-puisi yang membuat ku ingin membacanya berulang-ulang,.
okay... kok jadi ngelantur
jadi ini puisi-puisi di novel Beraja :)
cekiDOT  ;-)

  •  Apakah esok ditingkahi bahagia
    atau regukkan kecewa?
    serentak ragu akan ada sekarang
    serentak takut menyertai tiba-tiba
    tapi, diatas semua
    harapan pada kehendak
    ditangan Kuasa lebih besar
    bersama satu kepercayaan nyata
  • Biar sulit kutertatih
    nyatanya aku bisa merangkak
    biar payah kumerangkak
    nyatanya aku berangkang
    aku lelah
    aku frustasi
    aku sia-sia
    aku linglung
    aku bingung
    aku jatuh
    aku terjeramba
    walaupun ada setitik api harapan
    yang bila tak dijaga
    terhanyut angin, hujan, air lalu mati
  • Tawaku masih renyah
    senyumku selalu cerah
    sapaku tetap ramah
    tapi, hatiku mulai payah
    jiwaku kian gelisah
    asaku tambah lelah
    aku kembali harus mengalah
    biar bukan kalah
    adakah yang dapat kulakukan
    selain pasrah?
  • Ketika Sang Waktu menderai sesalku
    meluruhkan buta mataku
    membangkitkan lama tidurku
    mengatupkan senyumku
    kusungguh tak sanggup menguraikannya dengan segenap kata

    lalu Sang Waktupun mengajakku
    "Hei, masih ada pintu yang harus kau coba buka"

    dan Sang Waktu itu tetap memberiku waktu
    selalu.....
  • Satu senja terbawa angin
    pelan namun menjadikan debu
    satu senja merelakan aspal
    sesiang meluruh bersama debu mobil menjauh
    satu senja ratakan ilalang
    ketika kaki-kaki terburu pulang
    dan satu senja memanggilmalam
    untuk menemani tidurku hingga pagi menjelang
  • Berangkatlah dengan hati
    saat gundahmu memenuhi
    turutkan dengan ceria
    saat lara mengepung dada
    dan kau akan sadari
    duniamu akan selalu cantik senantiasa
  • Matahari terik memancar
    bukan berarti hanguskan
    hujan deras mengguyur
    bukan berarti bekukan
    lalu...
    mengapa kau simpulkan
    sesuatu yang masih dalam proses
    perjalanan?
  • Ingin kuempas
    segala bentuk gelisah yang sudah dikatakan
    ingin kulepas
    apapun yang sempat terasa yang telah kujujurkan
    tapi, tak mudah
    tapi,teramat susah
    sebab dia menancap kuat
    tak gampang diangkat
  • Jika pernah kau bertanya pada Sang Waktu
    tanyalah, mengapa pernah ada tatap mata?
    jika ingin kau bertanya pada sang Waktu
    tanyalah, bolehkah terulang segempok kenangan
    tanpa kalimat
    dan jika kau bisa memohon pada Sang waktu
    serukan, disini aku tak punya sesal
    meski karena Sang Waktu juga
    semua berlalu tak tersisa
  • Sepiku menjelang
    membuatku terdiam
    berharap ,
    sepi ini lekas pulang
  • Bangku sahabat setiaku
    menelusuri segala cerita
    adalah kegirangan
    mengenang tatap mata pertama
    adalah luar biasa
    membiarkan hati dengan hujan cinta
    adalah indah

    lalu.....
    membiarkan rindu
    hanyut dalam khayal pelukan
    adalah kedamaian
    membalut duka dalam doa dan semangat
    adalah ketenangan

    dan... jika boleh kembali bersama
    dengan laki-laki gagah itu disini
  • Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    lewat kata yang tak sempat disampaikan
    awan kepada air yang menjadikannya tiada
    aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapakan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

  • Berajaku, penghias mimpi
    ..... aku ingin mencintaimu .....
    melewati batas lautan kehidupan
    melengkahi jeruji ungkapan manusia
    menantang keganasan
    suara-suara tak bertuan

    ..... Aku ingin mencintaimu .....
    dengan bibir tanpa puisi
    dengan lagak tiada arti
    dengan kekonyolan sehari-hari
    dan aku ingin mencintaimu
    ..... Cuma Ingin .....
    MENCINTAIMU