Dug… terdengar suara tas yang jatuh
dari tangan Puja, yach Puja Vyana Maholtra, hari ini adalah hari liburnya
pulanglah ia ke kotanya dan tak sabar untuk tidur dikamarnya “wah berapa lama aku meninggalkan kamar ini?”
baru hanya setahun tapi ia begitu merindukan kamarnya ini, berbaringlah dia di
tempat tidurnya dan memandang langit-langit kamarnya, sejenak memejamkan mata
dan kemudian bangkit untuk membereskan isi tasnya, sambil mulai merapikan
kamarnya itu, terpusatlah pandangannya pada sebuah buku berwarna biru dengan
gambar 2 ekor kuda yang berada di atas meja belajarnya, dia duduk dan mulai
membuka halman pertama buku itu, dibukanya halaman pertama dan terlihatlah
tulisan yang berbunyi “frist love”, nah itu adalah judul puisi yang dibuatnya 4
tahun yang lalu, buku ini penuh dengan puisi dan kata-kata dari teman-teman
SMAnya dulu.
“Ibu… topi sekolah Pu mana??” suara yang terdengar dari kamar mungil yang indah “mana ibu tahu kau yang punya topi eh malah
ibu yang ditanya” ibunya menjawab dengan nada keras, ibunya agak suka marah
tapi sebenarnya beliau sangat baik, sambil ngomel beliau membantu Puja mencari
topi sekolahnya, yach Puja Vyana Maholtra, seorang gadis remaja yang baru saja
tamat dari SMP dan kini adalah hari pertamanya masuk SMA, hari ini adalah hari
yang begitu cerah namun rasa sedih dirasakan Puja karena ia harus berpisah dengan
teman-teman SMP dan guru-guru di SMPnya, apalagi guru bahasa Inggris yang
begitu ia kagumi seorang pria yang berumur sekitar 50-an karena lucu dan sangat
pintar dalam mengajar guru itu membuat Puja menyukai pelajaran bahasa inggris.
Puja anak yang ceria, baik dan sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya. kesedihannya
berkurang setelah ia ingat bahwa sahabat-sahabat terdekatnya ternyata satu
sekolah dengannya. Nah di pagi yang cerah itu mulailah Puja Vyana siap-siap
untuk pergi kesekolah barunya, “Puja,..
ingat bawa air, jangan sampai dehidrasi air itu sangat penting” terdengar
suara dari dapur, suara itu tidak lain adalah bapaknya Puja, bapaknya Puja
adalah orang yang sangat peduli dengan kesehatan, tiap berangkat sekolah
kata-kata itu tidak pernah absen di telinga Puja. “ship pak….” Kata puja, “Rambut
sudah, pakaian apalagi :D emm buku-buku dan tentunya air juga sudah, saatnya
brangkat, eitss sembahyangnya kelupaan” iapun sembahyang dan kemudian
berpamitan lalu mencium tangan kedua orang tuanya “Pak bu Pu jalan” “ ia
hati-hati ya nak” Puja keluar rumah dan ternyata ada yang ketinggalan,
Hellen ya dia sahabat Puja sejak kecil. “aduh…
selalu seperti ini kalau tidak aku yang nunggu pasti dia yang nunggu aku, haduh
kita gak kompak banget sih… huh…” Puja ngomon sendiri, “Darr” Hellen mencoba mengejutkan Puja dengan gaya manjanya tapi
sayang Puja sama sekali tidak terkejut, “
Sorry sorry aku telat ayo kita jalan!” dengan langak seolah-olah tepat
waktu,.. “hhmmm iss dasar kau yachh” jawab puja
Sampailah mereka disekolah barunya,
sahabat-sahabatnya yang lain sudah pada menunggu di depan gerbang, dan saat itu
juga mereka mulai bercerita satu sama lain, bersama cerahnya pagi itu.
MOS, yach biasa hari pertama sekolah
untuk siswa baru, mereka melaluinya dengan senang, tapi suatu ketika ada osis
pria yang membuat Puja kesal dan jengkel, Puja memang anak yang cepat kesal
tapi cepat juga reda kesalnya, Puja kesal karena pria itu sudah keterlaluan
memberi hukuman dan mentertawakan Puja, pria itu bernama Rohit, Rohit Ivana Khana,
lumayan ganteng dan pintar tapi agak jutek pada orang yang baru dikenalnya.
Hari MOS telah usai kini saatnya sekolah mulai mendapatkan pelajaran seperti
biasa, Puja dan Hellen satu kelas lagi, mereka sangat senang, hari itu bel
istirahat berbunyi mereka beranjak untuk kekantin, saat melewati kelas Rohit,
Puja dipanggil oleh seorang gadis kakak kelasnya, kakak itu berkata “Puja ada yang nanyain terus tuh” Puja
menjawab “Siapa kak?” kakak itu lalu
menunjuk ke arah Rohit, Rohit pun tersenyum malu, Puja mambalas senyuman Rohit
dengan gelagat malu-malu pula dan
langsung menarik Hellen untuk meninggalkan tempat itu. Karena entah apa
yang terjadi saat itu Jantung Puja berdebar kencang.
Dan kini sejak saat itu kala Rohit
ada di dekat Puja, Puja merasakan rasa yang begitu aneh, begitu juga yang
dirasakan Rohit. Tidak di sekolah di tempat les pun mereka bertemu karena
kebetulan ayah Rohit adalah guru lesnya Puja, mereka semakin hari semakin
dekat, karena Rohit adalah seniornya Puja ia sering membantu Puja dalam
mengerjakan tugas atau hanya sekedar mengejek Puja dengan memberinya
pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal untuk siswi seumurnya. Hari-hari
Puja bagai dihujani taburan bunga-bunga cinta, teman-teman Puja berkata kalau
Puja itu jatuh cinta pada Rohit, tapi Puja tidak tahu perasaan apa yang ia
rasakan karena untuk pertama kalinya ia merasakan hal ini pada seorang pria.
Setelah Puja mengetahui rasa apa yang ia rasakan ia sangat yakin akan kata
hatinya bahwa apa yang ia rasakan juga dirasakan Rohit karena Tiap bertemu
tatapan dan senyuman Rohit memiliki makna yang begitu dalam hingga menembus
kedasar hati Puja, hhmm rasa itu adalah rasa cinta. Makin hari mereka makin
dekat sampai-sampai ibu Puja mengira mereka menjalin ikatan sebagai sepasang
kekasih, tapi tidak begitu dengan bapak Puja dan ayah Rohit mereka tidak akan
membiarkan anak-anaknya pacaran sampai anak-anak itu lulus sekolah. meski mereka
sudah dekat tapi apa? kata cinta tidak pernah terucap diantara mereka hingga
akhirnya Rohit lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Puja merasa sedih
namun ia tetap yakin kalau hati Rohit hanya untuk dirinya,meski ternyata di bangku
kuliah sana Rohit sudah memiliki seorang kekasih, namun nyatanya di hati Rohit
selalu ada bayang-bayang Puja.
Hari berganti hari, bulan berganti
bulan hingga kini saatnya Puja dan teman-temannya lulus SMA, Puja dan Hellen melanjutkan
ke kampus yang sama dengan kampus Rohit Masuklah ia di kampus yang sama dengan
Rohit disini mereka dekat lagi, meski Rohit sudah beberapa kali pacaran tapi
Puja tetap yakin kalau Rohit masih ada rasa dengannya, hingga suatu hari Rohit
bercerita pada Puja kalau ia putus dengan pacarnya. Puja berkata “Udahlah Rohit kau akanlalu Rohit menjawab “emm
gadis seperti kau Pu, eh siapa ya…..” Puja terdiam dan tidak berani
menanyakan seperti kau itu apa maksudnya,
kata-kata Rohit tadi membuat harapan untuk Puja. Dan suatu hari Puja
memberi Rohit puisi tentang cinta, Rohit pura-pura tidak mengerti dengan puisi
yang diberikan Puja tersebut, dan bertanya “Maksudnya
Pu?” Puja menjawab “oh,. Hmm… gak
apa-apa kok cuman latihan buat puisi untuk pelajaran sastra aja, gimana bagus
gak?” dengan wajah penuh penasaran “ Owh,. Yach lumayanlah” jawab Rohit.
Sejak saat itu tiap kali mereka
bertemu mereka malu-malu dan terasa agak canggung. Hingga disiang hari untuk
sekedar mencairkan suasana Puja datang menemui Rohit hendak menagih hutang yang
dimiliki Rohit padanya, hutangnya bukan apa-apa hanya sekedar memberi tahu Puja
apa itu arti kata cinta, karena dulu saat Puja menanyakannya Rohit hanya
berkata “Pu,.. aku juga tidak tau apa itu
cinta, jadi aku jawabnya nanti aja ya, ya aku untang deh ma kau Pu?” Rohit
sedikit bingung dengan ucapan Puja saat itu tapi beberapa saat ia ingaat dan menjawab
“Cinta itu hanya sementara tak lebih dari
gombal semata yang hanya muncul sekejap, namun rasa sayang yang sulit untuk
muncul dan sulit untuk hilang, rasa sayang muncul setelah kenal lama hadapi
suka duka bersama dan ketika perasaan takut untuk kehilangan muncul.” Puja
diam dan kemudian berkata “seperti
itukah?” dan Rohit melanjutkan lagi ucapannya “Berpikir untuk pacaran dengan orang yang kita sayang itu harus serius
dan tulus, karena jika perpisahan terjadi akan menimbulkan rasa sakit yang
mendalam, dan aku gak mau menyakiti orang yang ku sayang dan sayang padaku, dan
kini aku ingin mencari pacar yang baru aku kenal karena jika perpisahan terjadi
tidak akan begitu sakit”. Mendengar ucapan Rohit seperti itu Puja berpikir
bahwa Rohit tidak akan menjadi kekasihnya, karena Rohit ingin mencari pacara orang
yang baru ia kenal. Dan kemudian Puja menjawab “Cinta itu tidak bisa diganti dengan rasa takut akan perpisahan, karena
cinta adalah rasa yang tulus, rasa yang akan selalu senantiasa menerima
keputusan sang waktu, rasa cinta jauh dari keluhan bila banyak mengeluh berarti
rasa cintanya perlu dipertanyakan, dan bila kau hanya bertindak seperti itu,
itu akan membuat gadis-gadis yang kau pacari sakit hati, pemikiranmu salah”
yach Puja dan Rohit pun akhirnya perang adu argumen seperti itulah mereka,
sedikit ada pemikiran berbeda pasti ujung-ujungnya berakhir dengan debat. Tapi
debat kali ini benar-benar membuat suasana hati mereka galau. Apa yang terjadi
pada mereka??? Sebuah ketakutan, rasa gengsi atau semacam rasa yang entah
kenapa tak mampu membuat mereka mengungkapkan isi hati maasing-masing.
Puja mulai berpikir kalau apa yang
dikatakan Rohit mungkin ada benarnya juga, bahwa ia sangat takut untuk
menyakiti orang yang ia sayang dan sayang padanya, entah kenapa Puja yakin
sekali yang dimaksud Rohit tadi adalah
dirinya sendiri. Tapi hal itu membuat Puja sedih karena Rohit akan mencari
gadis yang baru ia kenal. Puja berkata “Ya sudahlah mungkin ini sudah jalannya
kalau rasa ini hanya rasa yang tak sampai” di tempat yang berbeda Rohit
juga berkata “Tuhan menciptakan 2 hati
untuk manusia yang satu bersama kita dan yang satunya lagi bersama soulmate
kita nanti” Puja melanjutkan Diakhir rasa galau merek, mereka
mengatakan pantun yang pernah mereka buat bersama “Orang bodoh dipandang hina, kalau jodoh takkan kemana”J
Apa yang terjadi pada mereka???
Sebuah ketakutan, rasa gengsi atau semacam rasa yang entah kenapa tak mampu
membuat mereka mengungkapkan isi hati maasing-masing.
Yang sesungguhnya perasaan Puja dan Rohit itu sama namun
Rohit tidak begitu tahu bagaimana perasaan Puja sesungguhnya pada dirinya
begitu pula dengan Puja. Hal itu membuat mereka merasa tersiksa untuk melalui
hari-hari. Namun semua telah terjadi, mereka hanya diam untuk rasa yang tak sampai. Rohit dan Puja kini tahu
kalau cinta itu tidak harus memiliki
karena cinta itu di hati bukan di pikiran. Mulai saat itu Puja senantiasa
menjalani hari-harinya dengan penuh rasa cinta pada keluarga dan
teman-temannya, dan tentu rasanya untuk Rohit tidak akan pernah ia coba lupakan
karena ia merasa rasa cinta itu suatu rasa yang sangat berharga dan tak pantas
untuk dilupakan. “dia adalah cinta
pertamaku, yang pertama yang berkesan dan sulit terlupakan” ucapanya untuk Rohit, meski saat ini
mereka tak bersatu.
Tok… tok.. tok... suara gedoran pintu
membuat Puja kaget dan menghamburkan ingatannya tetang kisah first lovenya itu,
dilemparkan sebuah handuk dari orang yang mengetok pintu, itu tak lain adalah ibunya
sendiri yang menyuruhnya untuk segera pergi ke kamar mandi. Karena ia akan
menghadiri reoni bersama teman-teman SMAnya.
Nah, itulah kisah Puja dan Rohit yang
rasanya tak sampai namun itu bukanlah akhir suatu kisah karena tak ada yang
dapat menduga apa yang akan Sang Sutradara kehidupan tulis untuk kisah hidup seseorang.
Mungkinkah Puja Vyana Maholtra bisa bersatu dengan Rohit Ivana Khana di kemudian
hari?? Atau bahkan sebaliknya?? Hhmmm,. entahlah karena Itu semua tergantung
padaNya. Yang jelas semua bisa saja teradi karena dalam cinta ada tangan-tangan
gaib, yang bisa saja membuat kisah cinta itu mempunyai kisah yang tak pernah
terlupakan.
Love Story :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar