Kamis, 09 Januari 2014

"Diam Untuk Rasa Tak Sampai"



Dug… terdengar suara tas yang jatuh dari tangan Puja, yach Puja Vyana Maholtra, hari ini adalah hari liburnya pulanglah ia ke kotanya dan tak sabar untuk tidur dikamarnya “wah berapa lama aku meninggalkan kamar ini?” baru hanya setahun tapi ia begitu merindukan kamarnya ini, berbaringlah dia di tempat tidurnya dan memandang langit-langit kamarnya, sejenak memejamkan mata dan kemudian bangkit untuk membereskan isi tasnya, sambil mulai merapikan kamarnya itu, terpusatlah pandangannya pada sebuah buku berwarna biru dengan gambar 2 ekor kuda yang berada di atas meja belajarnya, dia duduk dan mulai membuka halman pertama buku itu, dibukanya halaman pertama dan terlihatlah tulisan yang berbunyi “frist love”, nah itu adalah judul puisi yang dibuatnya 4 tahun yang lalu, buku ini penuh dengan puisi dan kata-kata dari teman-teman SMAnya dulu.
“Ibu… topi sekolah Pu mana??” suara yang terdengar dari kamar mungil yang indah “mana ibu tahu kau yang punya topi eh malah ibu yang ditanya” ibunya menjawab dengan nada keras, ibunya agak suka marah tapi sebenarnya beliau sangat baik, sambil ngomel beliau membantu Puja mencari topi sekolahnya, yach Puja Vyana Maholtra, seorang gadis remaja yang baru saja tamat dari SMP dan kini adalah hari pertamanya masuk SMA, hari ini adalah hari yang begitu cerah namun rasa sedih dirasakan Puja karena ia harus berpisah dengan teman-teman SMP dan guru-guru di SMPnya, apalagi guru bahasa Inggris yang begitu ia kagumi seorang pria yang berumur sekitar 50-an karena lucu dan sangat pintar dalam mengajar guru itu membuat Puja menyukai pelajaran bahasa inggris. Puja anak yang ceria, baik dan sangat menyayangi orang-orang di sekitarnya. kesedihannya berkurang setelah ia ingat bahwa sahabat-sahabat terdekatnya ternyata satu sekolah dengannya. Nah di pagi yang cerah itu mulailah Puja Vyana siap-siap untuk pergi kesekolah barunya, “Puja,.. ingat bawa air, jangan sampai dehidrasi air itu sangat penting” terdengar suara dari dapur, suara itu tidak lain adalah bapaknya Puja, bapaknya Puja adalah orang yang sangat peduli dengan kesehatan, tiap berangkat sekolah kata-kata itu tidak pernah absen di telinga Puja. “ship pak….” Kata puja, “Rambut sudah, pakaian apalagi :D emm buku-buku dan tentunya air juga sudah, saatnya brangkat, eitss sembahyangnya kelupaan” iapun sembahyang dan kemudian berpamitan lalu mencium tangan kedua orang tuanya “Pak bu Pu jalan” “ ia hati-hati ya nak” Puja keluar rumah dan ternyata ada yang ketinggalan, Hellen ya dia sahabat Puja sejak kecil. “aduh… selalu seperti ini kalau tidak aku yang nunggu pasti dia yang nunggu aku, haduh kita gak kompak banget sih… huh…” Puja ngomon sendiri, “Darr” Hellen mencoba mengejutkan Puja dengan gaya manjanya tapi sayang Puja sama sekali tidak terkejut, “ Sorry sorry aku telat ayo kita jalan!” dengan langak seolah-olah tepat waktu,..  “hhmmm iss dasar kau yachh” jawab puja
Sampailah mereka disekolah barunya, sahabat-sahabatnya yang lain sudah pada menunggu di depan gerbang, dan saat itu juga mereka mulai bercerita satu sama lain, bersama cerahnya pagi itu.
MOS, yach biasa hari pertama sekolah untuk siswa baru, mereka melaluinya dengan senang, tapi suatu ketika ada osis pria yang membuat Puja kesal dan jengkel, Puja memang anak yang cepat kesal tapi cepat juga reda kesalnya, Puja kesal karena pria itu sudah keterlaluan memberi hukuman dan mentertawakan Puja, pria itu bernama Rohit, Rohit Ivana Khana, lumayan ganteng dan pintar tapi agak jutek pada orang yang baru dikenalnya. Hari MOS telah usai kini saatnya sekolah mulai mendapatkan pelajaran seperti biasa, Puja dan Hellen satu kelas lagi, mereka sangat senang, hari itu bel istirahat berbunyi mereka beranjak untuk kekantin, saat melewati kelas Rohit, Puja dipanggil oleh seorang gadis kakak kelasnya, kakak itu berkata “Puja ada yang nanyain terus tuh” Puja menjawab “Siapa kak?” kakak itu lalu menunjuk ke arah Rohit, Rohit pun tersenyum malu, Puja mambalas senyuman Rohit dengan gelagat malu-malu pula dan  langsung menarik Hellen untuk meninggalkan tempat itu. Karena entah apa yang terjadi saat itu Jantung Puja berdebar kencang.
Dan kini sejak saat itu kala Rohit ada di dekat Puja, Puja merasakan rasa yang begitu aneh, begitu juga yang dirasakan Rohit. Tidak di sekolah di tempat les pun mereka bertemu karena kebetulan ayah Rohit adalah guru lesnya Puja, mereka semakin hari semakin dekat, karena Rohit adalah seniornya Puja ia sering membantu Puja dalam mengerjakan tugas atau hanya sekedar mengejek Puja dengan memberinya pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal untuk siswi seumurnya. Hari-hari Puja bagai dihujani taburan bunga-bunga cinta, teman-teman Puja berkata kalau Puja itu jatuh cinta pada Rohit, tapi Puja tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan karena untuk pertama kalinya ia merasakan hal ini pada seorang pria. Setelah Puja mengetahui rasa apa yang ia rasakan ia sangat yakin akan kata hatinya bahwa apa yang ia rasakan juga dirasakan Rohit karena Tiap bertemu tatapan dan senyuman Rohit memiliki makna yang begitu dalam hingga menembus kedasar hati Puja, hhmm rasa itu adalah rasa cinta. Makin hari mereka makin dekat sampai-sampai ibu Puja mengira mereka menjalin ikatan sebagai sepasang kekasih, tapi tidak begitu dengan bapak Puja dan ayah Rohit mereka tidak akan membiarkan anak-anaknya pacaran sampai anak-anak itu lulus sekolah. meski mereka sudah dekat tapi apa? kata cinta tidak pernah terucap diantara mereka hingga akhirnya Rohit lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Puja merasa sedih namun ia tetap yakin kalau hati Rohit hanya untuk dirinya,meski ternyata di bangku kuliah sana Rohit sudah memiliki seorang kekasih, namun nyatanya di hati Rohit selalu ada bayang-bayang Puja.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga kini saatnya Puja dan teman-temannya lulus SMA, Puja dan Hellen melanjutkan ke kampus yang sama dengan kampus Rohit Masuklah ia di kampus yang sama dengan Rohit disini mereka dekat lagi, meski Rohit sudah beberapa kali pacaran tapi Puja tetap yakin kalau Rohit masih ada rasa dengannya, hingga suatu hari Rohit bercerita pada Puja kalau ia putus dengan pacarnya. Puja berkata “Udahlah Rohit kau akanlalu Rohit menjawab “emm gadis seperti kau Pu, eh siapa ya…..” Puja terdiam dan tidak berani menanyakan seperti kau itu apa maksudnya,  kata-kata Rohit tadi membuat harapan untuk Puja. Dan suatu hari Puja memberi Rohit puisi tentang cinta, Rohit pura-pura tidak mengerti dengan puisi yang diberikan Puja tersebut, dan bertanya “Maksudnya Pu?” Puja menjawab “oh,. Hmm… gak apa-apa kok cuman latihan buat puisi untuk pelajaran sastra aja, gimana bagus gak?” dengan wajah penuh penasaran “ Owh,. Yach lumayanlah” jawab Rohit.
Sejak saat itu tiap kali mereka bertemu mereka malu-malu dan terasa agak canggung. Hingga disiang hari untuk sekedar mencairkan suasana Puja datang menemui Rohit hendak menagih hutang yang dimiliki Rohit padanya, hutangnya bukan apa-apa hanya sekedar memberi tahu Puja apa itu arti kata cinta, karena dulu saat Puja menanyakannya Rohit hanya berkata “Pu,.. aku juga tidak tau apa itu cinta, jadi aku jawabnya nanti aja ya, ya aku untang deh ma kau Pu?” Rohit sedikit bingung dengan ucapan Puja saat itu tapi beberapa saat ia ingaat dan menjawab “Cinta itu hanya sementara tak lebih dari gombal semata yang hanya muncul sekejap, namun rasa sayang yang sulit untuk muncul dan sulit untuk hilang, rasa sayang muncul setelah kenal lama hadapi suka duka bersama dan ketika perasaan takut untuk kehilangan muncul.” Puja diam dan kemudian berkata “seperti itukah?” dan Rohit melanjutkan lagi ucapannya “Berpikir untuk pacaran dengan orang yang kita sayang itu harus serius dan tulus, karena jika perpisahan terjadi akan menimbulkan rasa sakit yang mendalam, dan aku gak mau menyakiti orang yang ku sayang dan sayang padaku, dan kini aku ingin mencari pacar yang baru aku kenal karena jika perpisahan terjadi tidak akan begitu sakit”. Mendengar ucapan Rohit seperti itu Puja berpikir bahwa Rohit tidak akan menjadi kekasihnya, karena Rohit ingin mencari pacara orang yang baru ia kenal. Dan kemudian Puja menjawab “Cinta itu tidak bisa diganti dengan rasa takut akan perpisahan, karena cinta adalah rasa yang tulus, rasa yang akan selalu senantiasa menerima keputusan sang waktu, rasa cinta jauh dari keluhan bila banyak mengeluh berarti rasa cintanya perlu dipertanyakan, dan bila kau hanya bertindak seperti itu, itu akan membuat gadis-gadis yang kau pacari sakit hati, pemikiranmu salah” yach Puja dan Rohit pun akhirnya perang adu argumen seperti itulah mereka, sedikit ada pemikiran berbeda pasti ujung-ujungnya berakhir dengan debat. Tapi debat kali ini benar-benar membuat suasana hati mereka galau. Apa yang terjadi pada mereka??? Sebuah ketakutan, rasa gengsi atau semacam rasa yang entah kenapa tak mampu membuat mereka mengungkapkan isi hati maasing-masing.
Puja mulai berpikir kalau apa yang dikatakan Rohit mungkin ada benarnya juga, bahwa ia sangat takut untuk menyakiti orang yang ia sayang dan sayang padanya, entah kenapa Puja yakin sekali  yang dimaksud Rohit tadi adalah dirinya sendiri. Tapi hal itu membuat Puja sedih karena Rohit akan mencari gadis yang baru ia kenal. Puja berkata  “Ya sudahlah mungkin ini sudah jalannya kalau rasa ini hanya rasa yang tak sampai” di tempat yang berbeda Rohit juga berkata “Tuhan menciptakan 2 hati untuk manusia yang satu bersama kita dan yang satunya lagi bersama soulmate kita nanti” Puja melanjutkan  Diakhir rasa galau merek, mereka mengatakan pantun yang pernah mereka buat bersama “Orang bodoh dipandang hina, kalau jodoh takkan kemana”J
Apa yang terjadi pada mereka??? Sebuah ketakutan, rasa gengsi atau semacam rasa yang entah kenapa tak mampu membuat mereka mengungkapkan isi hati maasing-masing.
Yang sesungguhnya perasaan Puja dan Rohit itu sama namun Rohit tidak begitu tahu bagaimana perasaan Puja sesungguhnya pada dirinya begitu pula dengan Puja. Hal itu membuat mereka merasa tersiksa untuk melalui hari-hari. Namun semua telah terjadi, mereka hanya diam untuk rasa yang tak sampai. Rohit dan Puja kini tahu kalau cinta itu tidak harus memiliki karena cinta itu di hati bukan di pikiran. Mulai saat itu Puja senantiasa menjalani hari-harinya dengan penuh rasa cinta pada keluarga dan teman-temannya, dan tentu rasanya untuk Rohit tidak akan pernah ia coba lupakan karena ia merasa rasa cinta itu suatu rasa yang sangat berharga dan tak pantas untuk dilupakan. “dia adalah cinta pertamaku, yang pertama yang berkesan dan sulit terlupakan”  ucapanya untuk Rohit, meski saat ini mereka tak bersatu.
Tok… tok.. tok... suara gedoran pintu membuat Puja kaget dan menghamburkan ingatannya tetang kisah first lovenya itu, dilemparkan sebuah handuk dari orang yang mengetok pintu, itu tak lain adalah ibunya sendiri yang menyuruhnya untuk segera pergi ke kamar mandi. Karena ia akan menghadiri reoni bersama teman-teman SMAnya.
Nah, itulah kisah Puja dan Rohit yang rasanya tak sampai namun itu bukanlah akhir suatu kisah karena tak ada yang dapat menduga apa yang akan Sang Sutradara kehidupan tulis untuk kisah hidup seseorang. Mungkinkah Puja Vyana Maholtra bisa bersatu dengan Rohit Ivana Khana di kemudian hari?? Atau bahkan sebaliknya?? Hhmmm,. entahlah karena Itu semua tergantung padaNya. Yang jelas semua bisa saja teradi karena dalam cinta ada tangan-tangan gaib, yang bisa saja membuat kisah cinta itu mempunyai kisah yang tak pernah terlupakan.

 Love Story :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar